Beberapa Pelajaran
Pertama
Seorang yang ditakdirkan untuk menjadi penyeru kebaikan tentulah terlebih dahulu tumbuh di hatinya rasa tidak senang terhadap kesesatan dan kerusakan yang dibuat oleh masyarakatnya.
Kedua
Pada mulanya Nabi Muhammad saw. tidak pernah mendambakan dan memimpikan akan menjadi Nabi, tetapi Allah menghendaki hal itu. Kesimpulan ini dibuktikan oleh keterkejutan beliau dengan turunnya wahyu pertama, konsultasinya dengan Khadijah mengenai rahasia peristiwa yang dialaminya di Gua Hira, pendapat Waraqah bin Naufal, dan pernyataan Jibril tentang Nabi diangkat menjadi Rasulullah.
Ketiga
Mendakwahkan sesuatu yang asing dan belum terpikirkan oleh publik, haruslah terlebih dahulu dengan cara diam-diam (tatap muka) hingga mendapatkan pendukung yang bersedia berkorban segalanya untuk itu. Jika pemimpin dakwah mendapat rintangan, diambilalihlah tugas itu oleh pengikut-pengikut setianya. Dengan demikian dapat terjamin keberlangsungan dakwah.
Keempat
Seruan Nabi saw. mengagetkan masyarakat. Karena itu mereka bereaksi dan menentangnya mati-matian. Targetnya ialah menghabisi diri Nabi dan sahabat-sahabatnya. Hal ini merupakan sanggahan historis terhadap propaganda kalangan nasionalis yang mengatakan, risalah (misi) Muhammad merupakan manifestasi citra dan cita bangsa Arab zaman itu. Pendapat serupa memang menggelikan dan hanya di dasarkan atas kegilaan akan ide nasionalis, sehingga menempatkan Islam sebagai sesuatu yang tumbuh dan kepribadian dan pemikiran bangsa Arab semata. Nyata sekali pandangan nasionalis oriented ini mengingkari kenabian Rasulullah dan menolak mentah-mentah risalah Islam, walaupun kebenarannya telah disanggah dan dibatalkan oleh fakta sejarah.
Kelima
Ketetapan dan keyakinan orang-orang yang telah beriman, walaupun mereka harus merasakan bermacam-macam siksaan, semua itu merupakan bukti kebenaran iman dan ketulusan hati mereka untuk memegang teguh aqidah dengan kebesaran jiwanya. Dalam keyakinan itu mereka menemukan kesenangan, kejernihan jiwa dan akal yang jauh lebih hebat ketimbang azab dan siksa yang ditujukan kepadanya.
![]() |
| Hijrah ke Habasyah |
Bagi orang mukmin yang benar-benar beriman dan bagi dai yang betul-betul ikhlas, rohanilah yang lebih diutamakan ketimbang jasad. Mereka lebih mementingkan tuntutan-tuntutan rohaniahnya daripada kesenangan dan kenikmatan fisik material. Inilah rahasia suksesnya dakwah kaum mukminin itu. Dan, dengan itul pulalah mereka berhasil membebaskan masyarakat manusia dari kegelapan dan kebodohan.
Keenam
Pernyataan Nabi yang disampaikan melalui pamannya dan penolakan terhadap tawaran harta dan kedudukan yang ditawarkan oleh tokoh-tokoh Quraisy, kedua-duanya mengandung arti dan bukti kebenaran risalah dan kesungguhan Nabi memenuhi keperluan manusia. Oleh karena itu seharusnya seorang dai bersungguh-sungguh untuk tetap menjalankan dakwahnya, sekalipun ia dimusuhi oleh pecinta-pecinta kebatilan dan dibujuk rayu oleh mereka itu dengan harta benda, pangkat, serta kedudukan. Bagi sang dai, penderitaan dalam dakwah haruslah dianggap sebagai kenikmatan dan pelajaran. Ridha Ilahi janganlah ditukarkan dengan kemegahan duniawi.
Ketujuh
Seorang pemimpin dakwah seyogyanya selalu mengadakan pertemuan rutin dengan pengikut-pengikutnya. Kalau bisa dilakukan secara terbuka, terbukalah. Jika tidak bisa, maka lakukanlah pertemuan dengan tertutup. Isi setiap pertemuan itu dengan pelajaran-pelajaran yang menambah keyakinan mereka akan dakwahnya. Ajarkan kepadanya taktik, strategi, dan etika dakwah.
Kedelapan
Seorang dai harus memperhatikan karib kerabatnya dengan menyampaikan ajakan-ajakan untuk perbaikan. Jika mereka menolak, maka serahkanlah kepada Allah. Sebab, orang lain pun akan tahu buruk atau baiknya mereka yang menolak itu.
Kesembilan
Seorang dai haruslah membela jiwa, kepentingan, dan akidah para pengikutnya. Ia harus memberikan alternatif yang tepat guna menyelamatkan mereka. Sebab keselamatan pengikut-pengikut itu berarti jaminan keberlangsungan dakwah itu sendiri.
Kesepuluh
Dipilihnya tempat hijrah pertama dan kedua, negeri Habasyah, menunjukkan adanya kaitan antara agama dan penganut agama. Kaitan itu jauh lebih kuat ketimbang kaitannya dengan masyarakat yang tidak beragama atau yang mengabdikan diri kepada benda (berhala). Agama-agama samawi itu sebenarnya bersatu tujuan, terutama tujuan sosialnya, dan bersamaan pula keamanannya, yakni iman kepada Allah, Rasul-rasul dan Hari Akhirat. Inilah yang membuat jaringan keakraban antara sesama penganut agama samawi yang asli itu jauh lebih kuat, ketimbang ikatan atau hubungan kefamilian, darah, atau daerah antara mereka dengan penganut-penganut ajaran keberhalaan dan dengan orang-orang yang kufur terhadap ajaran Allah swt.
Kesebelas
Pecinta-pecinta kebathilan tidak akan mudah menyerah di hadapan pembela-pembela kebenaran (haq). Jika mereka itu gagal dengan satu cara untuk melawan dan melenyapkan dakwah yang haq, akan dicari cara-cara yang lain. Ini memang sudah menjadi hukum kehidupan dan merupakan ujian apakah pembela-pembela kebenaran itu cukup mampu dan tangguh untuk mengunggulkan yang haq dan memusnahkan yang bathil.
Oleh: Samin Barkah, Lc., ME
Sumber: Dakwatuna.com

0 Response to "Mengkaji Sirah Rasululah: Sejak Pengangkatan Hingga Hijrah ke Habasyah (Bag 2)"
Posting Komentar