Mengkaji Sirah Rasululah: Sejak Pengangkatan Hingga Hijrah ke Habasyah (Bag 2)

Beberapa Pelajaran

Pertama

Seorang yang ditakdirkan untuk menjadi penyeru kebaikan tentulah terlebih dahulu tumbuh di hatinya rasa tidak senang terhadap kesesatan dan kerusakan yang dibuat oleh masyarakatnya.

Kedua

Pada mulanya Nabi Muhammad saw. tidak per­nah mendambakan dan memimpikan akan menjadi Nabi, tetapi Allah menghendaki hal itu. Kesimpulan ini dibuktikan oleh keterkejutan beliau dengan turun­nya wahyu pertama, konsultasinya dengan Khadijah mengenai rahasia peristiwa yang dialaminya di Gua Hira, pendapat Waraqah bin Naufal, dan pernyataan Jibril tentang Nabi diangkat menjadi Rasulullah.

Ketiga

Mendakwahkan sesuatu yang asing dan belum terpikirkan oleh publik, haruslah terlebih dahulu dengan cara diam-diam (tatap muka) hingga menda­patkan pendukung yang bersedia berkorban sega­lanya untuk itu. Jika pemimpin dakwah mendapat rintangan, diambilalihlah tugas itu oleh pengikut-­pengikut setianya. Dengan demikian dapat terjamin keberlangsungan dakwah.

Keempat

Seruan Nabi saw. mengagetkan masyara­kat. Karena itu mereka bereaksi dan menentangnya mati-matian. Targetnya ialah menghabisi diri Nabi dan sahabat-sahabatnya. Hal ini merupakan sang­gahan historis terhadap propaganda kalangan nasionalis yang mengatakan, risalah (misi) Muhammad merupakan manifestasi citra dan cita bangsa Arab zaman itu. Pendapat serupa memang menggeli­kan dan hanya di dasarkan atas kegilaan akan ide nasionalis, sehingga menempatkan Islam sebagai sesuatu yang tumbuh dan kepribadian dan pemi­kiran bangsa Arab semata. Nyata sekali pandangan nasionalis oriented ini mengingkari kenabian Rasu­lullah dan menolak mentah-mentah risalah Islam, walaupun kebenarannya telah disanggah dan diba­talkan oleh fakta sejarah.

Kelima

Ketetapan dan keyakinan orang-orang yang telah beriman, walaupun mereka harus merasakan bermacam-macam siksaan, semua itu merupakan bukti kebenaran iman dan ketulusan hati mereka untuk memegang teguh aqidah dengan kebesaran jiwanya. Dalam keyakinan itu mereka menemukan kesenangan, kejernihan jiwa dan akal yang jauh lebih hebat ketimbang azab dan siksa yang ditujukan kepadanya.

Hijrah ke Habasyah

Bagi orang mukmin yang benar-benar beriman dan bagi dai yang betul-betul ikhlas, rohanilah yang lebih diutamakan ketimbang jasad. Mereka lebih mementingkan tuntutan-tuntutan rohaniahnya daripada kesenangan dan kenikmatan fisik mate­rial. Inilah rahasia suksesnya dakwah kaum mukminin itu. Dan, dengan itul pulalah mereka berhasil membebaskan masyarakat manusia dari kegelapan dan kebodohan.

Keenam

Pernyataan Nabi yang disampaikan melalui pamannya dan penolakan terhadap tawaran harta dan kedudukan yang ditawarkan oleh tokoh-tokoh Quraisy, kedua-duanya mengandung arti dan bukti kebenaran risalah dan kesungguhan Nabi memenuhi keperluan manusia. Oleh karena itu seharusnya seorang dai bersungguh-sungguh untuk tetap men­jalankan dakwahnya, sekalipun ia dimusuhi oleh pecinta-pecinta kebatilan dan dibujuk rayu oleh mereka itu dengan harta benda, pangkat, serta kedudukan. Bagi sang dai, penderitaan dalam dakwah haruslah dianggap sebagai kenikmatan dan pelajaran. Ridha Ilahi janganlah ditukarkan dengan kemegahan duniawi.

Ketujuh

Seorang pemimpin dakwah seyogyanya selalu mengadakan pertemuan rutin dengan pengikut­-pengikutnya. Kalau bisa dilakukan secara terbuka, terbukalah. Jika tidak bisa, maka lakukanlah pertemuan dengan tertutup. Isi setiap pertemuan itu dengan pelajaran-pelajaran yang menambah keyakinan mereka akan dakwahnya. Ajarkan kepada­nya taktik, strategi, dan etika dakwah.

Kedelapan

Seorang dai harus memperhatikan karib kerabatnya dengan menyampaikan ajakan-ajakan untuk perbaikan. Jika mereka menolak, maka serah­kanlah kepada Allah. Sebab, orang lain pun akan tahu buruk atau baiknya mereka yang menolak itu.

Kesembilan

Seorang dai haruslah membela jiwa, kepen­tingan, dan akidah para pengikutnya. Ia harus memberikan alternatif yang tepat guna menyelamat­kan mereka. Sebab keselamatan pengikut-pengikut itu berarti jaminan keberlangsungan dakwah itu sendiri.

Kesepuluh

Dipilihnya tempat hijrah pertama dan kedua, negeri Habasyah, menunjukkan adanya kaitan antara agama dan penganut agama. Kaitan itu jauh lebih kuat ketimbang kaitannya dengan masyarakat yang tidak beragama atau yang mengabdikan diri kepada benda (berhala). Agama-agama samawi itu sebe­narnya bersatu tujuan, terutama tujuan sosialnya, dan bersamaan pula keamanannya, yakni iman kepa­da Allah, Rasul-rasul dan Hari Akhirat. Inilah yang membuat jaringan keakraban antara sesama penga­nut agama samawi yang asli itu jauh lebih kuat, ketimbang ikatan atau hubungan kefamilian, darah, atau daerah antara mereka dengan penganut-penga­nut ajaran keberhalaan dan dengan orang-orang yang kufur terhadap ajaran Allah swt.

Kesebelas

Pecinta-pecinta kebathilan tidak akan mudah menyerah di hadapan pembela-pembela kebenaran (haq). Jika mereka itu gagal dengan satu cara untuk melawan dan melenyapkan dakwah yang haq, akan dicari cara-cara yang lain. Ini memang sudah menjadi hukum kehidupan dan merupakan ujian apakah pembela-pembela kebenaran itu cukup mampu dan tangguh untuk mengunggulkan yang haq dan memusnahkan yang bathil.

Oleh: Samin Barkah, Lc., ME
Sumber: Dakwatuna.com

0 Response to "Mengkaji Sirah Rasululah: Sejak Pengangkatan Hingga Hijrah ke Habasyah (Bag 2)"

Posting Komentar