Makna Syahadat (Bag 1: Urgensi Syahadatain)

Tarbiyah - Syahadatain yang dimaksud adalah syahadat tauhid yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan syahadat risalah yaitu persaksian bahwa Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah.

Sebagai makhluk yang teristimewakan dengan akalnya, manusia diberi amanah kepemimpinan di bumi. Maka ia tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Hal ini mengharuskan manusia untuk mengambil sikap yang tepat, sesuai dengan posisinya sebagai makhluk yang berakal. Ia harus mengambil keputusan yang benar berdasarkan pengetahuan yang bebas dari hawa nafsu, terlebih dalam penghambaan dan penyembahan. Persaksiannya tentang tuhan, menuntutnya untuk menyembah (menghamba) tuhan itu. Allah yang telah menciptakan dan menjadikannya sebagai makhluk yang paling terhormat, tidak menghendaki jika manusia menghamba kepada sesama makhluk. Demi menjaga kehormatan manusia itu, Allah menurunkan petunjuk dan mengutus para rasul yang membimbingnya untuk menemukan dan mengenali Tuhan yang sebenarnya, sehingga manusia tidak menuhankan selain-Nya. Bimbingan dan ajaran yang dibaawa oleh para rasul itulah yang selanjutnya disebut Islam, orang yang masuk Islam disebut muslim.


Banyak orang terdata sebagai seorang muslim bahkan jumlah umat ini sampai sepuluh digit di dunia ini. Akan tetapi, jumlah yang sangat besar itu seakan tidak ada artinya sama sekali. Mereka selah-olah lenyap ketika kehormatan agama, negeri, dan saudara mereka yang muslim dinodai oleh bangsa lain. Semangat juang yang pernah dikobarkan oleh generasi syahadat pertama –yang dengan syahadatainnya telah menorehkan tinta emas umat manusia yang shalih— telah jadi catatan sejarah. Generasi yang dengan syhadatainnya berani mengatakan “tidak” ketika semua orang bertekuk lutut di bawah penindasan tiran, kezhaliman jahiliyah, dan penyembahan terhadap batu-batu tuli dan kayu-kayu mati. Generasi yang dibesarkan Allah dengan syhadatain, mendobrak kezhaliman dengna keberanian berdasar tauhidullah dan memperlakukan dunia dengan santun meneladani Rasulullah saw.

Generasi yang hilang itu harus terlahir kembali ke dunia untuk mengagungkan asma Allah, menjunjung tinggi sunnah Rasulullah, meninggikan panji Islam yang sebenarnya lahir untuk menang, bukannya untuk kalah. Islam itu unggul dan tidak terungguli. Mereka harus merebut kembali kehormatan manusia yang terkoyak oleh thaghut-thaghut durjana. Mereka adalah generasi syahadatain.

Syahadatain adalah pondasi utama. Di atasnya dibangun aqidah Islam yang shahih, akhlak yang mulia, dan ibadah yang benar. Perpaduan tersebut selanjutnya mewarnai seluruh aspek kehidupan mereka.

Syahadatain adalah pintu gerbang Islam


Untuk masuk Islam, orang harus menyatakan persaksiannya atas kebenaran Islam itu dengan mengucapkan syahadatain. Syahadat tauhid merupakan pengakuan terhadap ketuhanan Allah yang menurunkan sistem ini kepada Nabi-Nya. Syahadat rasul merupakan pengakuan bahwa Muhammad saw. Harus dijadikan panutan dalam menjalankan Islam (muslim) yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan muslim yang lain, aman dan damai dalam naungan Islam.

Rasulullah saw. Bersabda,

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa ilaha illallah, apabila mereka telah mengucapkan laa ilaha illallah maka darah dan harta mereka menjadi suci.”

Mendengar laporan bahwa Usamah bin Zaid tetap memenggal musuh yang telah mengucapkan syahadat, Rasulullah saw. marah dan mengatakan kepadanya,

“Mengapa tidak kau belah saja dadanya, sehingga engkau tahu isi hati dia yang sebenarnya!”

Syahadatain merupakan intisari ajaran Islam


Secara global Islam terdiri atas aqidah dan syari’ah. Sisi-sisi lain Islam yang terdiri dari ibadah, akhlak, dan mu’amalat merupakan implementasi syahadat tauhid dan syahadat rasul ini.

Azas Perubahan


Ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah saw. tidak mengawali perubahan itu dari politik, ekonomi, atau yang lain. Beliau saw. Mengawalinya dengan merubah apa yang ada dalam jiwa. Hal paling penting yang ada di dalam jiwa itu adalah keyakinan. Dengan syahadatain itu, terjadilah perubahan besar yang sangat mendasar dalam seluruh aspek kehidupan generasi terbaik itu. Bangsa yang kecil, terisolir, dan terbelakang tersebut kemudian menjadi bangsa terbaik yang pernah dilahirkan untuk seluruh bangsa. Mereka hijrah dari jahiliyah menuju Islam, dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

Inti dakwah para rasul


Syahdatain dengan konsepsi semacam itulah yang didakwahkan para nabi dan rasul. Mereka semua mengatakan “Fattaqullah wa athii’uuni!!!” (bertakwalah kepada Allah dan taatilah aku!). Statemen mereka ini diabadikan Al-Qur’an dalam kisah-kisah para nabi yang tersebar di berbagai surat.

Fadilah dan keutamaannya


Banyak fadilah dan keutamaan yang terkandung di dalam syahadatain, di antaranya seperti yang dikatakan Rasul saw. sendiri:

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaaha illallah, ia masuk surga.”

“Barangsiapa mati sedang ia mengetahui bahawa tidak ada tuhan selain Allah, ia masuk surga”

“Dua kata yang ringan diucapkan namun berat timbangannya, yakni: laa ilaaha illallah, Muhammad rasulullah.”

Saat Rasul saw. mendakwahkan syahadatain di Makkah, masyarakat terbagi dua. Satu golongan menerimanya dengan tulus, siap total menanggung segala konsekuensi dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga. Golongan yang lain menolaknya dengan segala kebencian dan permusuhan dengan mempertaruhkan segala jiwa dan raga pula. Kedua golongan tersebut, sangat memahami makna dan konsekuensi dari syahadat ini.

Sumber : Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah

0 Response to "Makna Syahadat (Bag 1: Urgensi Syahadatain)"

Posting Komentar